Example floating
Example floating
Opini

Hatchu!!!: Bisingnya Kota dan Jati Diri yang Semakin Mengkerut

×

Hatchu!!!: Bisingnya Kota dan Jati Diri yang Semakin Mengkerut

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Example 468x60

LIPUTANMALANG – Dewasa ini, kota semakin terasa sesak, jalanan penuh, media sosial riuh, dering notifikasi beradu setiap harinya, dari notifikasi diskon hingga tagihan pinjol. Identitas diri perlahan mulai terbentuk oleh algoritma sosial, dan manusia mulai kehilangan ruang batinnya.

Diam-diam banyak orang sibuk mencari ketenangan. Buku-buku bertajuk ketenangan atau self-healing mulai laris dibaca, semua sibuk mencari obat untuk luka yang membuat jiwa dan raganya melemah setiap harinya.

Dari Stoisisme Yunani, Ikigai Jepang, hingga Ho’oponopono Hawaii, manusia modern tampaknya sedang mencari cara untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Di Indonesia, fenomena ini menarik karena masyarakat yang religius pun mulai akrab dengan berbagai konsep self-healing dari luar negeri tersebut.

Berbagai aspek kehidupan pun berlomba menciptakan penawar yang tepat bagi sejawatnya. Sebagaimana musisi tanah air Salma Salsabil yang merilis Lagu “Hatchu!!” pada 08 Mei 2026 ini menciptakan lagu yang terdengar ringan di telinga, tetapi menyimpan potret getir kehidupan kota. Di balik iramanya yang santai, ada manusia-manusia yang setiap hari menukar tenaga dengan angka, berangkat pagi dan pulang malam sambil mempertahankan kewarasan batinnya. Mungkin karena itulah masyarakat modern semakin akrab dengan Stoisisme, Ikigai, hingga Ho’oponopono serta berbagai konsep self-healing lainnya.

Stoisisme (Stoa) – Lahir dari ketidakpastian hidup

Stoisisme muncul di Yunani sebelum abad ke-3 SM, diprakarsai oleh Zeno of Citium. Konon, Zeno kehilangan hampir seluruh hartanya karena kapal dagangnya karam. Setelah itu ia belajar filsafat di Athena dan mulai mengembangkan gagasan: “Manusia tidak bisa mengontrol dunia, tapi bisa mengontrol respons dirinya.”

Yunani saat itu dipenuhi perang dan gejolak politik yang melahirkan ketidakpastian sosial. Dari situ, Stoisisme hadir sebagai upaya manusia menemukan ketenangan di tengah dunia yang sulit dikendalikan. Sehingga apa-apa yang tidak bisa diubah, tidak perlu kita hiraukan, kita hanya perlu fokus kepada kontrol diri untuk mengurangi kompleksitas masalah yang ada.

Filosofi Teras karya Henry Manampiring adalah salah satu buku yang dapat melengkapi informasi tentang Stoisisme secara utuh.

Ikigai – Lahir dari budaya hidup bermakna

Ikigai sendiri berasal dari kata Jepang. Iki bermakna hidup, sedangkan gai bermakna nilai/ alasan. Secara sederhana Ikigai adalah alasan untuk hidup. Konsep ini lahir karena pada saat itu budaya Jepang sangat dipengaruhi oleh banyaknya komunitas, kedisiplinan diri, pencarian makna kerja, konsep kesederhanaan serta kesinambungan hidup. Konsep ini kemudian merebak dan sangat pesat pengaplikasiannya di Okinawa.

Di Jepang, terutama pasca perang dunia, masyarakat menghadapi banyaknya kehancuran, tekanan kerja dan modernisasi yang begitu cepat, sehingga muncullah kebutuhan di kalangan rakyat Jepang bahwa hidup bukan sekedar bertahan, namun mempunyai makna sehari-hari.

Oleh karena itu Ikigai sering kali bukanlah merupakan tujuan yang besar, justru penerapan kecil seperti berkebun, merawat keluarga, membuat teh ataupun bekerja dengan sepenuh hati.

Dari buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life karya Hector Garcia dan Francesc Miralles, kita dapati bahwa Okinawa dikenal sebagai wilayah Blue Zones dengan mayoritas penduduk berumur panjang.

Ho’oponopono — Lahir dari kebutuhan memulihkan hubungan

Ho’oponopono berasal dari tradisi asli Hawaii. Artinya sederhana: “Memperbaiki/ meluruskan kembali”. Mulanya Ho’oponopono bukanlah metode self-healing modern sebagaimana yang tersebar di internet saat ini. Melainkan sekadar ritual keluarga dan komunitas. Ia muncul karena masyarakat Hawaii tradisional percaya bahwa “Konflik batin dan pertengkaran antar manusia bisa merusak keseimbangan hidup.” Sehingga fungsi dari Ho’oponopono digunakan untuk meminta maaf, mengaku salah, memaafkan dan memulihkan hubungan sosial, kemudian muncul versi modernnya dengan kalimat-kalimat sederhana seperti; I’m sorry, Please forgive me, Thank you dan I love you. Bahwa pemulihan itu lahir dari pembersihan batin, dari langkah-langkah sederhana yang sering kali kita abaikan dengan ataupun tanpa sadar.

Melogika Rasa karya Rosyiid Gede Prabowo menjelaskan tentang konsep Ho’oponopono secara ringkas dan sarat akan makna.

Ketiga konsep tersebut tidak lain dan tidak bukan muncul karena kebutuhan manusia menghadapi penderitaan, ketidakpastian, luka batin dan kehilangan arah hidup. Konsep-konsep tersebut membawa manusia menemukan jalan untuk keluar dari krisis yang dihadapinya, ini adalah bukti nyata bahwa setiap peradaban mampu melahirkan caranya sendiri untuk membantu manusia bertahan hidup.

Seperti yang kita ketahui bahwa manusia selalu membutuhkan tempat bersandar secara batin. Yang menariknya adalah, ketiga konsep di atas ditawarkan dalam kesatuan konsep bernama Ikhlas yang digaungkan oleh Islam. Ia berkaitan erat dengan tawakal, sabar dan ridha.

Dalam tradisi Islam, kegelisahan manusia sebenarnya telah lama dijawab melalui konsep ikhlas, tawakal, sabar, dan ridha. Nilai-nilai ini memiliki irisan dengan berbagai konsep ketenangan dari peradaban lain, meski berangkat dari landasan spiritual yang berbeda.

Bagi sebagian Muslim urban, istilah-istilah seperti ikhlas, tawakal, dan ridha kadang terdengar terlalu normatif atau tradisional. Akibatnya, banyak orang lebih dahulu menemukan ketenangan melalui Stoisisme, Ikigai, Ho’oponopono atau konsep self-healing modern lainnya, sebelum akhirnya menyadari bahwa nilai serupa juga hidup dalam tradisi Islam secara utuh sejak lama.

Tawakal kerap disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, ia justru lahir setelah manusia mengerahkan ikhtiar terbaiknya, lalu menyadari bahwa tidak semua hasil berada dalam kendali dirinya.

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)

Firman di atas melahirkan irisan nilai stoisisme, bahwa manusia hanya mengontrol usaha dan hasil sepenuhnya bukan atas kontrol manusia

Pun juga, manusia sering kali hidup demi validasi, angka, pencapaian dan citra sosial. Dan Islam menawarkan konsep Ikhlas secara gamblang dalam Q.S Al-Bayyinah: 5

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya…”

Dengan ini lahir makna yang serupa Ikigai yang bisa menjadi mesin penggerak agar tekanan menjadi lebih bermakna, tidak hanya menggerogoti jiwa dan raga saja.

Sabar juga seringkali dianggap pasrah tanpa usaha, padahal sejatinya ia adalah proses penerimaan dan pengendalian diri agar jiwa memiliki batas yang tepat dalam menafsirkan suatu keadaan yang mungkin tidak nyaman baginya.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar yang dimaksud bukanlah pasif, namun lebih kepada kreativitas diri dalam bertahan, menjaga diri dan tidak runtuh oleh keadaan. Konsep ini membantu mengatasi kejenuhan terhadap tekanan kehidupan urban, relasi sosial dan kelelahan emosional. Sabar membawa jiwa kepada penyembuhan batin dan pemulihan diri selayaknya Ho’oponopono bekerja.

Di tengah kota yang tak pernah benar-benar diam, generasi hari ini terus berlari mengejar banyak hal: angka, pengakuan, dan rasa aman yang sering kali tak kunjung selesai. Namun mungkin, yang paling dibutuhkan jiwa bukanlah kehidupan yang selalu berjalan sesuai keinginan, melainkan hati yang mampu menerima hidup tanpa kehilangan harapan. Dalam konsep ridha, manusia belajar bahwa tidak semua hal harus dimenangkan untuk bisa ditenangkan. Sebab kadang-kadang, kedamaian lahir bukan ketika dunia akhirnya berubah mengikuti kehendak kita, tetapi ketika hati perlahan mampu berdamai dengan apa yang telah digariskan Sang Pencipta.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Barangkali karena itulah Stoisisme mengajarkan manusia untuk menerima hal-hal di luar kendalinya, Ikigai mengingatkan pentingnya menemukan makna hidup, dan Ho’oponopono mengajak manusia memulihkan luka batinnya. Ketiganya menunjukkan bahwa di tengah kerasnya kehidupan modern, manusia selalu mencari jalan pulang menuju ketenangan. Dalam Islam, pencarian itu telah lama hidup melalui nilai ikhlas, tawakal, sabar, dan ridha. Bahwa ketenangan sejati tidak hanya lahir dari kemampuan memahami hidup, tetapi juga dari kesediaan hati untuk berserah kepada Tuhan tanpa kehilangan makna sebagai manusia.

Manusia modern jarang kehilangan koneksi internet, tetapi sering kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri.

 

Kolom Opini

Oleh: Ulya Hajar Ufairah, B. A

Koordinator Kedisiplinan Thursina IIBS Malang

Example 300250
Example floating
PAGE TOP