Berita

Di Balik Kampus-Kampus Malang, Ketawanggede Dengan Festival Budaya dan UMKM

LIPUTANMALANG– Ada kampung yang setiap hari dilewati ribuan mahasiswa, tetapi namanya tidak selalu menjadi tujuan. Ketawanggede berada dalam situasi itu.

Kampung di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tersebut hidup di tengah kepungan perguruan tinggi. Aktivitas mahasiswa menjadi bagian dari keseharian. Warung, usaha makanan, jasa dan UMKM warga ikut tumbuh mengikuti denyut kawasan pendidikan.

Kampoeng Budoyo kemudian menjadi cara warga membalik posisi tersebut. Selama 25-28 September 2026, kampung tidak sekadar menjadi latar aktivitas kampus. Gang dan ruang warga berubah menjadi panggung budaya dan ruang transaksi.

Pada penyelenggaraan keempat itu, sekitar 230-an UMKM ikut terlibat. Lebih dari 200 stan kuliner dan jajanan tradisional disiapkan. Pada Minggu (27/9/2026), ribuan pengunjung terlihat memenuhi kawasan festival. Total kunjungan selama penyelenggaraan disebut telah mencapai puluhan ribu orang.

Keramaian tersebut membawa konsekuensi ekonomi yang langsung terasa. Orang datang untuk menikmati budaya, tetapi uang mereka kemudian berputar di lapak-lapak warga.

Ketua Kampoeng Budoyo Ketawanggede, Yanto Catur, mengatakan ekonomi memang ditempatkan sebagai salah satu fondasi festival.

“Terutama perekonomian. Kita ngangkat UMKM, ngangkat ekonominya warga semua. Untuk UMKM persentasenya memang kita lebihkan untuk warga sendiri, sisanya 35 persen untuk warga Malang Raya,” ujar Yanto.

Di RW 02 Ketawanggede, misalnya, terdapat sekitar 90 UMKM yang berada di bawah binaan Ketua RW Firman Qusnul Arif. Persiapan pelibatan mereka dilakukan jauh sebelum festival.

“Di bawah binaan saya ada sekitar 90 UMKM. Tujuannya untuk meningkatkan ekonomi mereka. 90 UMKM ini warga Ketawanggede asli semua. Tiga bulan sebelum Kampoeng Budoyo kami sudah sering koordinasi, termasuk pendataan,” ujar Firman.

Firman memperkirakan perputaran transaksi UMKM di wilayahnya bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam empat hari festival.

“Kalau UMKM saya saja bisa ratusan juta dalam empat hari,” katanya.

Pola ini memperlihatkan bahwa festival kampung tidak selalu berhenti pada urusan pertunjukan. Ketika jumlah pengunjung besar, festival secara otomatis menciptakan pasar temporer. Pedagang mendapat pembeli, produk lokal mendapat panggung, dan kampung memperoleh ruang untuk memperkenalkan dirinya.

Yang dijual Ketawanggede pun bukan hanya makanan.

Tema Colorful Urban Culture membuat setiap RW membawa identitas budaya berbeda. RW 02 memilih nuansa Bali, RW 03 mengangkat Madura, RW 04 membawa budaya Jawa Barat atau Sunda. RW lain juga menampilkan karakter budaya masing-masing.

Sekitar 10 jenis hiburan hadir dalam rangkaian acara. Keroncong, reggae, dangdut, perkusi, rock hingga musik Jawa mengisi panggung festival.

Sebagian pertunjukan berasal dari warga.

“Perkusi warga saya, khususnya warga RW 2,” ujar Firman.

Keberagaman budaya tersebut juga mencerminkan kehidupan Ketawanggede yang bersentuhan dengan mahasiswa dari berbagai daerah.

“Warna-warni kebudayaan. Kebudayaan di sini kan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Biar kegiatan mereka merasa seperti di rumah sendiri. Meskipun tidak pulang ke kelahirannya, tapi sudah merasa di kampung sendiri,” tutur Firman.

Dari situlah muncul gagasan agar Ketawanggede tidak hanya dikenal sebagai kawasan yang dekat dengan kampus.

“Tujuan awal Kampoeng Budoyo itu menyatukan. Kita memamerkan ke kelurahan-kelurahan sekitar Ketawanggede guyub rukunnya. Ketawanggede itu sudah dikelilingi kampus-kampus, tapi di luaran sana masih banyak orang belum memahami Ketawanggede,” kata Yanto.

Secara administratif, Universitas Brawijaya berada di wilayah Kelurahan Ketawanggede. Namun dalam percakapan sehari-hari, nama kampus jauh lebih populer daripada nama kampung.

Festival perlahan mengubah keadaan itu.

“Alhamdulillah dengan adanya Kampoeng Budoyo, Ketawanggede sudah didengar orang, sudah tahu. Brawijaya sekarang orang menyebutnya, ‘Brawijaya, oh di Ketawanggede ya’,” ujar Yanto.

Skala festival juga terus bergerak. Pada 2023, terdapat sekitar 50 stan. Pada 2025, partisipan meningkat menjadi sekitar 150. Tahun 2026 jumlah UMKM yang terlibat mencapai sekitar 230-an.

Di sela-sela geliat ekonomi tersebut, pemuda mendapat ruang yang lebih besar. Mereka terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan, sekaligus menjadi bagian dari regenerasi pengelola kegiatan.

Tetapi pertumbuhan skala kegiatan juga memunculkan kebutuhan baru. Menurut Yanto, pembiayaan Kampoeng Budoyo selama ini masih banyak mengandalkan partisipasi warga.

“Harapan kita fresh money. Bagaimana caranya supaya tetap berlanjut Kampoeng Budoyo ini untuk selanjutnya, per tahunnya,” kata Yanto.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil porsi lebih besar dalam pembiayaan festival.

“Tahun depan ini harus 100 persen dari pemerintah, minimal 50 persen,” ujarnya.

PAGE TOP
Exit mobile version