LIPUTANMALANG – Wong cilik orak nyekel dolar, ning sengsarane teko disik (red. Orang kecil tidak pegang dolar, namun kesengsaraannya datang lebih dulu).
Orang desa tidak pegang dolar, jadi kenaikan dolar tidak akan berpengaruh.Kalimat seperti itu sering terdengar setiap kali nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika.
Sekilas terdengar masuk akal. Petani di desa tidak membeli saham Wall Street, pedagang pasar tidak menyimpan tabungan dalam dolar, dan nelayan tidak bertransaksi langsung dengan bank internasional.
Namun benarkah gejolak dolar hanya menjadi urusan elite kota dan pelaku bisnis besar?
Justru di balik narasi itu, rakyat kecil di desa sering menjadi pihak yang paling lambat menyadari, tetapi paling lama menanggung dampaknya. Kenaikan dolar bukan sekadar angka di layar bursa.
Ia menjalar pelan ke harga pupuk, minyak goreng, pakan ternak, hingga biaya sekolah anak. Masalahnya, dampak itu datang tanpa pemberitahuan.
Pada April 2024, nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.200 per dolar AS, level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
Bank Indonesia bahkan harus melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Ketika rupiah melemah, barang impor otomatis menjadi lebih mahal.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku pangan, energi, hingga kebutuhan industri. Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik.
Data pertama terlihat dari sektor pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa harga beras mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2024 akibat tekanan distribusi dan biaya produksi.
Murobbiyah Thursina IIBS malang
Banyak petani menggantungkan pupuk, pestisida, dan mesin pertanian yang bahan bakunya terkait impor. Ketika dolar naik, biaya produksi naik. Ketika biaya produksi naik, harga jual ikut naik.
Pada akhirnya, masyarakat desa membeli beras dari sawah mereka sendiri dengan harga yang lebih mahal.
Data kedua datang dari sektor energi. Indonesia memang negara penghasil minyak, tetapi masih mengimpor minyak mentah dan BBM dalam jumlah besar. Pelemahan rupiah membuat beban impor energi meningkat. Pemerintah sering kali menahan harga BBM demi menjaga stabilitas sosial, tetapi konsekuensinya adalah membengkaknya subsidi negara.
Ketika anggaran negara tersedot untuk subsidi energi, sektor lain seperti pendidikan, bantuan desa, atau pembangunan infrastruktur berpotensi dikurangi. Jadi meskipun warga desa tidak membeli dolar, jalan desa yang rusak dan bantuan pupuk yang tersendat bisa menjadi efek lanjutan dari penguatan dolar.
Data ketiga terlihat dari dunia usaha kecil. Banyak UMKM desa kini bergantung pada bahan baku yang terhubung dengan pasar global. Pedagang gorengan membeli minyak yang harganya dipengaruhi impor kedelai dan gandum dunia.
Peternak ayam membeli pakan yang sebagian besar berbahan impor seperti bungkil kedelai. Ketika dolar naik, biaya produksi naik, tetapi daya beli masyarakat tidak ikut naik. Akibatnya, keuntungan usaha kecil semakin tipis.
Ironisnya, narasi “dolar tidak memengaruhi orang desa” justru sering dipakai untuk menenangkan publik. Padahal persoalan ekonomi tidak bekerja secara langsung, melainkan bertahap dan sistemik.
Rakyat desa mungkin tidak membaca kurs mata uang setiap pagi, tetapi mereka merasakan dampaknya saat harga sembako naik seribu demi seribu. Persoalan terbesar bukan hanya kenaikan harga, melainkan stagnasi pendapatan masyarakat kecil.
Di sinilah politik ekonomi sering menunjukkan wajah paradoksnya. Pemerintah kerap membanggakan pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi lupa menjelaskan bahwa pertumbuhan tidak selalu berarti kesejahteraan merata.
Ketika rupiah melemah, kelompok menengah atas masih memiliki bantalan aset dan tabungan. Namun rakyat kecil hidup dari penghasilan harian. Kenaikan harga cabai atau gas elpiji bisa langsung mengguncang dapur mereka.
Lebih jauh lagi, ketergantungan Indonesia terhadap impor menunjukkan rapuhnya fondasi ekonomi nasional. Negeri agraris masih mengimpor pangan. Negeri kaya sumber daya masih bergantung pada dolar untuk stabilitas ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, desa bukan wilayah yang kebal terhadap krisis, melainkan wilayah yang paling rentan karena akses perlindungannya terbatas.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya menjaga kurs rupiah di pasar keuangan. Pemerintah perlu memperkuat ekonomi domestik dari bawah.
Produksi pangan lokal harus diperkuat agar tidak terlalu bergantung pada impor. Distribusi pupuk dan bantuan pertanian harus diperbaiki agar petani tidak terus dibebani biaya tinggi. Selain itu, UMKM desa perlu diberi akses teknologi dan pembiayaan murah supaya mampu bertahan saat harga bahan baku naik.
Pendidikan literasi ekonomi juga penting. Masyarakat perlu memahami bahwa ekonomi global selalu terhubung dengan kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman itu, rakyat tidak mudah dibuai oleh narasi politik yang menyederhanakan persoalan.
Pada akhirnya, kenaikan dolar memang tidak membuat warga desa tiba-tiba membeli mata uang asing. Namun dampaknya hadir dalam bentuk yang lebih nyata: harga kebutuhan pokok yang naik, biaya hidup yang makin berat, dan daya beli yang melemah.
Dolar mungkin berada jauh di pusat keuangan dunia, tetapi getarannya tetap sampai ke dapur-dapur sederhana di desa Indonesia. Politik yang sehat seharusnya tidak menenangkan rakyat dengan ilusi, melainkan menyiapkan negara agar mampu melindungi mereka dari badai ekonomi global. ***
