OPINI – Sebentar ya, Ma, aku lagi lihat video penting.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi diam-diam menggambarkan perubahan besar dalam dunia pendidikan dan pola komunikasi keluarga hari ini. Di ruang makan, di kamar tidur, bahkan saat orang tua sedang berbicara, perhatian anak sering kali lebih tertuju pada layar ponsel dibanding suara di sekelilingnya.
Nasihat orang tua kalah cepat dari video 30 detik di media sosial. Fenomena ini bukan sekadar persoalan sopan santun generasi muda, melainkan tanda bahwa otoritas pendidikan di rumah mulai bergeser ke algoritma digital.
Hari ini, banyak anak mengenal kehidupan bukan dari pengalaman keluarga, tetapi dari “For You Page” (FYP). Mereka belajar cara berbicara, berpikir, berpakaian, bahkan menentukan nilai hidup dari konten yang terus muncul di layar. Yang lebih mengkhawatirkan, media sosial tidak hanya menjadi hiburan, tetapi perlahan mengambil alih posisi orang tua sebagai sumber utama pengaruh.
Data menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar asumsi. Laporan DataReportal 2026 mencatat bahwa pengguna TikTok dewasa di Indonesia mencapai sekitar 180 juta orang pada akhir 2025. Angka tersebut setara dengan hampir 89 persen populasi dewasa pengguna internet di Indonesia. Artinya, media sosial kini hidup sangat dekat dengan keseharian masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja yang bahkan belum sepenuhnya matang secara emosional.
Masalahnya bukan hanya pada banyaknya pengguna, tetapi pada lamanya waktu yang dihabiskan. Survei Diginex bersama Inventure dan Ivosights menunjukkan bahwa mayoritas anak muda Indonesia menghabiskan 4–6 jam per hari di media sosial. Dalam durasi selama itu, media sosial tidak lagi menjadi selingan, melainkan ruang utama pembentukan karakter dan cara berpikir. Anak bisa lebih hafal nama influencer dibanding tokoh yang membesarkannya sendiri di rumah.
Di sinilah letak kegelisahan terbesar dunia pendidikan modern. Selama ini sekolah dan keluarga merasa masih menjadi pusat pendidikan anak. Padahal, tanpa disadari, pendidikan telah berpindah ke ruang digital yang tidak memiliki kurikulum moral yang jelas. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan atensi, bukan nilai. Konten yang paling emosional, kontroversial, lucu, atau sensasional akan lebih sering muncul dibanding nasihat yang tenang dan mendidik.
Akibatnya, banyak anak tumbuh dalam budaya instan. Mereka terbiasa menerima jawaban cepat tanpa proses berpikir mendalam. Mereka lebih percaya “kata konten kreator” dibanding diskusi panjang dengan orang tua atau guru. Bahkan dalam beberapa kasus, nasihat keluarga dianggap kuno karena berbeda dengan tren yang sedang viral di media sosial.
Fenomena ini terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit remaja yang lebih memilih mengikuti tren berbahaya demi validasi digital. Ada yang rela membuat konten ekstrem, berbicara kasar, atau memamerkan kehidupan pribadi hanya demi angka penonton. FYP menciptakan ilusi bahwa popularitas adalah ukuran keberhasilan. Padahal pendidikan sejatinya membentuk kedewasaan berpikir, bukan sekadar kemampuan menarik perhatian publik.
UNICEF juga mengingatkan bahwa perkembangan media sosial jauh lebih cepat dibanding kemampuan orang tua memahami teknologi digital. Banyak orang tua akhirnya hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kehidupan digital anak-anaknya. Ketika komunikasi keluarga melemah, media sosial dengan mudah mengisi ruang kosong tersebut.
Namun menyalahkan teknologi sepenuhnya juga bukan solusi yang bijak. Media sosial hanyalah alat. Yang menjadi persoalan adalah minimnya kesiapan pendidikan keluarga dan sekolah dalam menghadapi perubahan zaman. Banyak orang tua masih mendidik dengan pola lama untuk anak yang hidup di dunia baru. Mereka melarang tanpa mendampingi, menasihati tanpa memahami, dan menghakimi tanpa mendengar.
Karena itu, pendidikan hari ini harus berubah. Orang tua tidak cukup hanya menjadi pemberi aturan, tetapi juga harus menjadi teman dialog. Anak perlu merasa bahwa rumah adalah tempat paling nyaman untuk bercerita, bukan sekadar tempat menerima larangan. Ketika komunikasi emosional dalam keluarga kuat, pengaruh media sosial tidak akan mudah mengambil alih.
Sekolah juga harus berhenti memandang media sosial sebagai musuh semata. Dunia pendidikan perlu masuk ke ruang digital dengan cara yang lebih kreatif dan relevan. Guru dapat memanfaatkan konten pendek edukatif, diskusi digital, hingga literasi algoritma agar siswa mampu membedakan mana hiburan, mana manipulasi. Anak-anak perlu diajarkan bahwa tidak semua yang viral layak ditiru.
Pemerintah sebenarnya mulai menyadari ancaman ini. Indonesia bahkan telah merancang pembatasan akses media sosial untuk anak dan remaja sebagai bagian dari perlindungan digital. Namun regulasi saja tidak cukup jika keluarga tetap kehilangan kedekatan dengan anak-anaknya.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah karena FYP terlalu kuat, melainkan karena banyak nasihat di rumah tidak lagi benar-benar didengar. Bukan sebab orang tua tidak peduli, tetapi karena dunia digital bergerak lebih cepat daripada kemampuan keluarga beradaptasi.
Jika hari ini anak lebih percaya layar dibanding pelukan orang tuanya sendiri, maka yang sedang kita hadapi bukan sekadar krisis teknologi, melainkan krisis kedekatan. Dan pendidikan, sesungguhnya, selalu dimulai dari hubungan yang hangat sebelum pelajaran apa pun diberikan.
Oleh:
Penulis
Fifi Luthfiyah Maulidah, S. Pd
Murobbiyah Thursina IIBS
