OPINI – Seorang remaja bisa bertahan menonton video TikTok selama berjam-jam, tetapi merasa lelah membaca lima halaman buku pelajaran. Fenomena ini sering dianggap sebagai bukti bahwa generasi muda semakin malas membaca. Namun, benarkah masalahnya sesederhana itu? Atau justru pendidikan gagal menghadirkan pengalaman belajar yang hidup, relevan, dan dekat dengan dunia peserta didik?
TikTok hari ini bukan sekadar aplikasi hiburan. Ia telah menjadi ruang belajar baru, tempat anak muda memperoleh informasi, hiburan, bahkan pengetahuan praktis dalam waktu singkat. Ketika buku semakin ditinggalkan, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “mengapa anak tidak suka membaca?”, tetapi juga “mengapa pendidikan kalah menarik dibanding media sosial?”
Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 143 juta pengguna media sosial aktif pada awal 2025. Angka tersebut setara dengan lebih dari separuh populasi nasional. Selain itu, penetrasi internet Indonesia telah mencapai 74,6 persen dari total penduduk. Data ini menunjukkan bahwa kehidupan generasi muda hari ini sangat dekat dengan dunia digital.
Di sisi lain, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, sementara rata-rata OECD mencapai 74 persen. OECD menjelaskan bahwa pada level minimum tersebut, siswa setidaknya mampu memahami ide utama sebuah teks dan menemukan informasi penting dalam bacaan.
Fakta ini memperlihatkan ironi besar. Anak muda sebenarnya tidak kehilangan kemampuan untuk belajar. Mereka mampu memahami tutorial, tren sosial, bahasa asing, hingga informasi ekonomi melalui konten digital berdurasi singkat. Artinya, persoalannya bukan pada rendahnya rasa ingin tahu generasi muda, melainkan pada cara pendidikan menghadirkan pengetahuan.
Sekolah masih terlalu sering menjadikan membaca sebagai kewajiban administratif, bukan kebutuhan intelektual. Buku hadir sebagai simbol tugas, ujian, dan tekanan nilai. Siswa membaca karena takut salah, bukan karena ingin memahami dunia. Dalam situasi seperti ini, wajar jika media sosial terasa lebih menarik. TikTok menawarkan visual yang dinamis, bahasa yang ringan, dan pengalaman yang cepat. Sementara pendidikan masih berkutat pada metode satu arah: guru berbicara, murid mendengar, lalu diuji.
Kesalahan terbesar pendidikan hari ini adalah kegagalan memahami perubahan cara belajar generasi digital. Sistem pendidikan masih menganggap bahwa belajar hanya sah ketika dilakukan secara formal dan serius, padahal generasi sekarang belajar melalui banyak medium. Ironisnya, algoritma media sosial justru lebih memahami cara mempertahankan perhatian anak dibanding ruang kelas.
PISA 2022 juga mencatat bahwa sebagian siswa Indonesia mudah terdistraksi oleh perangkat digital ketika pembelajaran berlangsung. Namun, menyalahkan teknologi sepenuhnya bukan solusi. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan dampaknya adalah bagaimana pendidikan merespons perubahan tersebut.
Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya melarang penggunaan gawai atau mengeluhkan rendahnya minat baca. Sekolah harus mulai membangun pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan siswa. Buku perlu dihadirkan sebagai ruang refleksi dan eksplorasi, bukan sekadar sumber jawaban ujian. Guru juga perlu memahami budaya digital agar mampu menjembatani dunia pendidikan dengan realitas keseharian peserta didik.
Banyak pendidik kreatif mulai menggunakan media sosial sebagai sarana pembelajaran: membuat video sejarah singkat, penjelasan matematika interaktif, atau pembelajaran bahasa yang lebih komunikatif. Langkah seperti ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman. Justru pendidikanlah yang harus beradaptasi agar tetap memiliki makna.
Selain itu, kurikulum perlu memberi ruang lebih besar pada diskusi, proyek, dan pembelajaran kontekstual. Anak-anak tidak cukup hanya diminta menghafal isi buku, tetapi perlu diajak berpikir, mempertanyakan, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Ketika belajar terasa hidup, buku tidak akan lagi dipandang sebagai beban.
Pada akhirnya, masalahnya bukan karena TikTok terlalu menarik. Masalah utamanya adalah pendidikan terlalu lama mempertahankan cara lama dalam menghadapi generasi baru. Dunia berubah cepat, tetapi sekolah sering berjalan lambat. Jika pendidikan ingin kembali menjadi pusat pembentukan pengetahuan, maka ia harus berhenti sekadar menuntut perhatian siswa dan mulai layak untuk diperhatikan.
Oleh :
Penulis
Meilina Husna Adiebah, S. Pd
Murobbiyah Thursina IIBS
